Japanese Walking vs Javanese Walking: Senam Betis di Negeri Orang

Japanese Walking vs Javanese Walking 

Tiga hari ikut World Physiotherapy Congress 2025 di Tokyo, saya merasa ikut lomba jalan cepat tiap hari. Bolak-balik dari stasiun Yotsugi ke Tokyo International Forum, harus ikut irama langkah warga Jepang yang seperti lari kecil tapi tetap elegan. Mau ngelamun atau cek Google Maps aja bisa ketabrak bahu. Saya yang biasanya jalan santai ala Trenggalek, jadi kayak anak magang di kamp pelatihan atlet nasional.

Di kereta pagi, suasananya sunyi. Nyaris tak ada yang ngobrol. Semua tenggelam dalam gadget, buku, atau lamunan. Bahkan pasangan suami-istri pun duduk diam-diaman. Dalam hati saya mikir: ini pada ngambek massal atau emang budaya? Tapi ya memang begitu gaya hidup mereka: efisien, tertib, dan minim gangguan sosial di ruang publik.

Ternyata ini bukan cuma soal budaya kerja keras atau jam masuk kantor yang ketat. Gaya hidup aktif masyarakat Jepang memang dibentuk sejak dini. Anak-anak SD di Jepang udah biasa jalan kaki ke sekolah tanpa diantar. Orang tua mereka pun terbiasa jalan kaki ke stasiun, ke toko, ke mana-mana. Dalam sehari, rata-rata orang Jepang bisa jalan 6.500–7.000 langkah, bahkan lebih untuk yang tinggal di kota besar (GoIkuzo).

Tentu beda dengan kita. Di Indonesia, terutama kota-kota kecil, jalan kaki kadang dianggap “kegiatan orang susah”. Trotoar pun sering disabotase pedagang, parkir liar, atau rusak kayak habis perang. Belum lagi udara panas dan kendaraan ugal-ugalan bikin niat sehat langsung hilang.

Lucunya, Indonesia justru dinobatkan sebagai negara paling santai di dunia versi Tempo. Bahkan menurut seorang penulis di Kompasiana, santainya kita disebut sampai level bisa tertawa di tengah macet (Kompasiana).

Tapi, apakah santai itu salah? Enggak juga. Jalan cepat bukan indikator kebahagiaan. Jepang boleh unggul dalam kedisiplinan dan efisiensi, tapi tingkat stres mereka juga tinggi, bahkan angka bunuh diri sempat jadi perhatian nasional (Suara.com).

Di sisi lain, jalan santai ala kita menyimpan nilai-nilai sosial: menyapa tetangga, ngobrol sama tukang sayur, atau sekadar ngelamun sambil mikir hidup. Hal-hal yang dianggap “tidak produktif” tapi bisa menjaga kewarasan.

Jadi, mana yang lebih baik? Jalan cepat ala Jepang atau jalan santai ala kita?

Jawabannya: gabungkan saja! Kita bisa belajar dari Jepang tentang kebiasaan aktif dan efisien, tapi tetap mempertahankan kearifan lokal: menikmati hidup, memaknai waktu, dan menghargai relasi sosial. Lagipula, hidup ini bukan lomba lari. Tapi kalau bisa sehat dan waras, kenapa pilih salah satu?

Write a comment