Featured Post

Ketika Rehabilitasi Digital Tidak Lagi Sekadar Aplikasi

https://bantulkab.go.id/berita/detail/5869/kenali-fisioterapi-lebih-dekat-lewat-aplikasi-inclusion-app.html Bukan setiap inovasi lahir untuk menggantikan manusia. Sebagian justru lahir agar lebih banyak manusia akhirnya bisa dijangkau. Indonesia sedang memasuki babak baru pelayanan kesehatan. Transformasi digital menjadi agenda nasional, kecerdasan buatan mulai masuk ke ruang praktik, dan telemedicine perlahan menjadi kebiasaan. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, rehabilitasi justru berjalan lebi…
Ketika Rehabilitasi Digital Tidak Lagi Sekadar Aplikasi

Investasi yang Bernama Fisioterapi

Ilustrasi Puskesmas : https://dinkes.karanganyarkab.go.id/puskesmas/ "Yang paling mahal dalam sistem kesehatan bukanlah obat yang mahal atau teknologi yang canggih. Yang paling mahal adalah keterlambatan—terlambat mencegah, terlambat menangani, dan terlambat mengembalikan seseorang pada kehidupannya." Di ruang-ruang pelayanan kesehatan, kita sering kali menyaksikan ironi yang sama. Seorang pekerja dengan nyeri punggung terus memaksakan diri bekerja hingga kondisinya memburuk. Seorang…
Investasi yang Bernama Fisioterapi

Bell’s Palsy: Ketika Wajah Kehilangan Kemampuan untuk Menyampaikan Kehidupan

Ilustrasi Bells Palsy | By Gemini AI Gerak wajah bukan sekadar kontraksi otot. Ia adalah bahasa manusia. Melalui wajah, seseorang menyampaikan kasih sayang kepada anaknya, menunjukkan empati kepada pasien, mengekspresikan kegembiraan kepada sahabat, menjaga kontak sosial, melindungi matanya, menikmati makanan, dan membangun identitas dirinya di hadapan dunia. Karena itu, ketika seseorang mengalami Bell’s palsy, masalah yang dihadapi tidak berhenti pada kelemahan otot wajah. Yang sesungguhnya te…
Bell’s Palsy: Ketika Wajah Kehilangan Kemampuan untuk Menyampaikan Kehidupan

Mungkin Kita Terlalu Cepat Bertanya, "Berapa Nyerinya?"

Selama hampir 17 tahun menjadi fisioterapis, saya hampir selalu mengawali asesmen nyeri dengan pertanyaan yang sama. "Kalau nyerinya dinilai dari 0 sampai 10, sekarang berapa?" Pertanyaan itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas klinis saya. Saya mempelajarinya sejak bangku kuliah, menerapkannya saat praktik, dan terus menggunakannya hingga hari ini. Namun, seiring bertambahnya pengalaman, saya mulai merasakan ada sesuatu yang kurang pas. Bukan karena Visual A…
Mungkin Kita Terlalu Cepat Bertanya, "Berapa Nyerinya?"

Epistemologi Human Movement System dan Akar Sejarah Fisioterapi

Moving as One | Allen Wittert - ugallery.com Tulisan ini merupakan refleksi pribadi seorang fisioterapis atas dinamika keilmuan dan praktik kolaborasi dalam sistem kesehatan, bukan upaya untuk menegasikan peran profesi kesehatan lain. Justru melalui pembacaan kritis terhadap perkembangan ilmu, pelayanan yang lebih manusiawi diyakini hanya dapat lahir dari pengakuan yang setara terhadap keragaman paradigma keilmuan yang ada. ••• Dalam arus utama pelayanan kesehatan kontemporer, khususnya di Ind…
Epistemologi Human Movement System dan Akar Sejarah Fisioterapi

Kerja Belum Selesai, Belum Apa-Apa

Ilustrasi: Perjalanan Jauh | Nabira.net Perjalanan fisioterapi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terjadi di tengah perubahan besar kebijakan kesehatan nasional. Sebelum Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan , tata kelola profesi kesehatan relatif mapan, namun tidak setara. Beberapa profesi lama berada di pusat pengambilan keputusan, sementara fisioterapi lebih banyak bergerak di wilayah pelayanan teknis—hadir di lapangan, melayani masyarakat, tetapi jarang dianggap sebagai …
Kerja Belum Selesai, Belum Apa-Apa

Dilema Fisioterapi Indonesia

Sebelum kita bicara diagnosis berbasis ICD, ICF, atau Movement System Diagnosis, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan terlebih dahulu: Apakah infrastruktur dan cetak biru profesi fisioterapi di Indonesia memang dirancang untuk membentuk seorang movement diagnostician—profesional yang mampu menganalisis, menyimpulkan, dan mengambil keputusan klinis atas gangguan sistem gerak manusia? Ataukah, sejak awal, sistem yang ada justru membentuk fisioterapis sebagai pelaksana terapi yang m…
Dilema Fisioterapi Indonesia

Ijinkan Saya Ketiduran

Qadarallah saya ketiduran Pagi-pagi saya bangun, Subuh. HP saya seperti habis perang: 11 missed call, puluhan chat tak terbaca. Saya ketiduran, Ingat kisah Ashabul Kahfi. Para pemuda yang ditidurkan Allah dalam gua selama ratusan tahun, bukan karena malas, tapi karena dunia saat itu terlalu bising untuk dihadapi. QS. Al-Kahfi: 11 menyebut, “Lalu Kami tidurkan mereka dalam gua itu beberapa tahun yang banyak.” Tidur bukan sekadar lelap, tapi perlindungan spiritual. Dalam dunia yang mengukur nila…
Ijinkan Saya Ketiduran

Kalau kau suka hati bilang 'Totti'

Cockatiel  Di rumah saya, ada satu makhluk yang setiap pagi selalu semangat menyapa dunia. Namanya Totti. Totti adalah burung Falk (cockatiel) kesayangan saya. Hobinya? Bersiul lagu “Kalau Kau Suka Hati, Tepuk Tangan.” Secara ilmiah, cockatiel memang bisa menirukan suara manusia. Mereka punya kemampuan vokal yang cukup kompleks, menurut Scientific Reports (2020).  Tapi jangan bayangkan siulan Totti itu merdu kayak soundtrack Disney . Kadang nadanya ngaco, falsnya lucu, dan temponya suka-suka d…
Kalau kau suka hati bilang 'Totti'

Japanese Walking vs Javanese Walking: Senam Betis di Negeri Orang

Japanese Walking vs Javanese Walking  Tiga hari ikut World Physiotherapy Congress 2025 di Tokyo, saya merasa ikut lomba jalan cepat tiap hari. Bolak-balik dari stasiun Yotsugi ke Tokyo International Forum , harus ikut irama langkah warga Jepang yang seperti lari kecil tapi tetap elegan. Mau ngelamun atau cek Google Maps aja bisa ketabrak bahu. Saya yang biasanya jalan santai ala Trenggalek, jadi kayak anak magang di kamp pelatihan atlet nasional. Di kereta pagi, suasananya sunyi. Nyaris tak …
Japanese Walking vs Javanese Walking: Senam Betis di Negeri Orang