Mungkin Kita Terlalu Cepat Bertanya, "Berapa Nyerinya?"

Pasien datang bukan membawa angka. Mereka datang karena tidak bisa bergerak seperti yang mereka inginkan


Selama hampir 17 tahun menjadi fisioterapis, saya hampir selalu mengawali asesmen nyeri dengan pertanyaan yang sama.

"Kalau nyerinya dinilai dari 0 sampai 10, sekarang berapa?"

Pertanyaan itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas klinis saya. Saya mempelajarinya sejak bangku kuliah, menerapkannya saat praktik, dan terus menggunakannya hingga hari ini.

Namun, seiring bertambahnya pengalaman, saya mulai merasakan ada sesuatu yang kurang pas.

Bukan karena Visual Analog Scale (VAS) atau Numeric Rating Scale (NRS) tidak sahih. Keduanya merupakan instrumen yang telah tervalidasi dan direkomendasikan untuk mengukur intensitas nyeri (Hawker et al., 2011).

Yang membuat saya berpikir justru adalah respons pasien.

Tidak sedikit yang tampak kebingungan ketika diminta mengubah pengalaman nyerinya menjadi sebuah angka. Sebaliknya, mereka jauh lebih mudah menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi.

"Kalau naik tangga mulai sakit."
"Kalau jongkok lama baru terasa."
"Kalau habis mencangkul, malamnya nyeri."
"Kalau istirahat sebentar biasanya hilang."

Saat itulah saya menyadari bahwa mungkin saya telah mengajukan pertanyaan yang tepat, tetapi dalam urutan yang kurang tepat.


Pasien Datang Karena Tidak Bisa Bergerak

Jika dipikir ulang, pasien tidak datang ke klinik karena angka nyeri.

Mereka datang karena ada aktivitas yang tidak lagi dapat mereka lakukan dengan nyaman.

Tidak bisa berjalan jauh. Tidak bisa salat dengan khusyuk. Tidak mampu menggendong cucu. Sulit bangkit dari lantai. Tidak kuat bekerja seharian.

Masalah utama mereka adalah gangguan movement dan fungsi. Nyeri memang menjadi bagian penting dari masalah itu, tetapi ia selalu hadir dalam konteks aktivitas dan gerakan yang bermakna bagi kehidupan sehari-hari pasien.


Saya Mulai Mengubah Urutan Pertanyaan

Perlahan, saya berhenti memulai asesmen dengan angka.

Saya lebih dahulu bertanya:

"Gerakan apa yang paling sering memunculkan nyeri?"

Kemudian saya lanjutkan:

"Berapa lama Bapak atau Ibu bisa melakukan aktivitas itu sebelum nyeri muncul?"
"Kalau berhenti, berapa lama sampai nyerinya berkurang?"
"Apakah nyerinya langsung muncul, atau semakin bertambah selama aktivitas berlangsung?"

Tanpa saya sadari sepenuhnya, saya sedang mengeksplorasi irritability.

Baru setelah pasien selesai bercerita, saya bertanya:

"Saat naik tangga tadi, kalau nyerinya dinilai dari 0 sampai 10, kira-kira berapa?"

Anehnya, pasien justru lebih mudah menjawab. Angka yang mereka berikan tidak lagi berdiri sendiri — ia memiliki konteks.


Mengapa Saya Memulai dari Irritability?

Dalam kerangka SINSS (Severity, Irritability, Nature, Stage, Stability), severity dan irritability merupakan dua komponen yang saling melengkapi dalam proses clinical reasoning (Petersen et al., 2021).

Saya tidak sedang mengusulkan perubahan terhadap kerangka tersebut. Yang saya usulkan hanyalah perubahan urutan wawancara klinis, berdasarkan apa yang saya temukan dalam pengalaman praktik.

Menurut saya, memulai dari irritability membantu pasien menceritakan pengalamannya secara lebih alami. Saya memperoleh gambaran mengenai:

  • gerakan yang memprovokasi gejala;
  • toleransi terhadap aktivitas;
  • respons terhadap pembebanan;
  • durasi gejala bertahan;
  • faktor yang meredakan keluhan.

Setelah konteks itu terbentuk, barulah saya meminta pasien mengkuantifikasi severity. Bagi saya, angka tersebut menjadi jauh lebih bermakna karena tidak lagi terlepas dari pengalaman gerak yang nyata.


Dari Angka Menuju Clinical Reasoning

Sebagai fisioterapis, tujuan saya bukan sekadar mencatat bahwa nyeri pasien bernilai 6 dari 10.

Saya harus memutuskan:

  • Apakah latihan aman diprogresikan?
  • Apakah jaringan masih sangat sensitif?
  • Apakah pasien siap kembali bekerja?
  • Apakah intensitas latihan perlu dikurangi?

Pertanyaan-pertanyaan itu lebih banyak dijawab oleh perilaku gejala daripada oleh intensitas gejala semata.

Di sinilah konsep irritability menjadi sangat membantu — ia menghubungkan nyeri dengan movement, aktivitas, dan pembebanan. Dan bukankah itulah wilayah kerja seorang fisioterapis?


Sebuah Refleksi tentang Cara Kita Bertanya

Pengalaman ini juga mendorong saya untuk bertanya lebih jauh: apakah sebagian pasien Indonesia memang lebih mudah menceritakan pengalaman nyerinya melalui narasi aktivitas sehari-hari dibandingkan melalui skala numerik?

Saya belum memiliki jawabannya, dan saya tidak ingin menyimpulkan sesuatu yang belum diteliti. Namun saya percaya bahwa pertanyaan ini layak menjadi agenda penelitian, terutama dalam konteks komunikasi klinis dan adaptasi budaya instrumen asesmen nyeri.


Movement Lebih Dulu, Angka Kemudian

Semakin lama saya berpraktik, semakin saya meyakini bahwa fisioterapi seharusnya dimulai dari movement — karena memang itulah yang dibawa pasien ke hadapan kita.

Movement membawa kita memahami irritability. Dan setelah konteksnya jelas, severity menjadi jauh lebih mudah dipahami, baik oleh pasien maupun oleh fisioterapis.

Saya masih menggunakan VAS dan NRS. Saya tidak berniat menggantikannya.

Namun dalam praktik sehari-hari, saya lebih memilih membuka percakapan dengan:

"Gerakan apa yang membuat Anda kesulitan?"

Bukan:

"Berapa nyerinya?"

Karena bagi seorang fisioterapis, keputusan klinis yang baik tidak dimulai dari angka. Ia dimulai dari memahami bagaimana seseorang bergerak, bagaimana gejala muncul dalam gerak, dan bagaimana kita dapat membantunya kembali bergerak — dengan aman, efisien, dan percaya diri.


Referensi

Hawker, G. A., Mian, S., Kendzerska, T., & French, M. (2011). Measures of adult pain: Visual Analog Scale for Pain (VAS Pain), Numeric Rating Scale for Pain (NRS Pain), McGill Pain Questionnaire (MPQ), Short-Form McGill Pain Questionnaire (SF-MPQ), Chronic Pain Grade Scale (CPGS), Short Form-36 Bodily Pain Scale (SF-36 BPS), and Measure of Intermittent and Constant Osteoarthritis Pain (ICOAP). Arthritis Care & Research, 63(S11), S240–S252.

Petersen, E. J., Thurmond, S. M., & Jensen, G. M. (2021). Severity, Irritability, Nature, Stage, and Stability (SINSS): A clinical perspective. Journal of Manual & Manipulative Therapy, 29(5), 297–309.

Posting Komentar