Kartini Menggugat Kebaya

Saya bertanya dalam hati: "benarkah ini bentuk penghormatan? Ataukah kita sedang terjebak dalam ritual simbolik?"

- Ilustrasi RA Kartini dibuat dengan AI

Setiap tahun, kita memperingati Hari Kartini dengan pemandangan yang sudah sangat akrab—dan, saya kira, juga sangat klise. Anak-anak perempuan di sekolah memakai kebaya. Para ibu ASN berdandan anggun dengan sanggul dan kain jarik. Di kantor-kantor pemerintahan, kita melihat poster-poster bergambar Kartini, lengkap dengan kutipan “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang seolah menjadi mantra tahunan. 

Enouh! semua merasa cukup dan Kartini sudah dihormati.

Namun saya bertanya-tanya dalam hati: benarkah ini bentuk penghormatan? Ataukah kita sedang terjebak dalam ritual simbolik yang justru mengaburkan esensi perjuangan Kartini itu sendiri?

Kartini lahir dan tumbuh dalam struktur sosial Jawa yang feodal, dalam masyarakat di mana perempuan ditempatkan dalam batas-batas yang kaku dan ketat. Ia dipingit di usia muda. Ia menyaksikan bagaimana saudara perempuannya dinikahkan pada usia sangat dini. Ia tahu betul bagaimana tradisi, adat, bahkan tafsir agama bisa menjadi alat penindasan terhadap perempuan. Dan ia melawan itu semua—dengan cara yang sangat Jawa, sangat halus, tapi juga sangat radikal.

Surat-surat Kartini adalah jeritan intelektual yang melampaui zamannya. Ia tidak hanya menginginkan sekolah bagi perempuan. Ia tidak sekadar mendambakan ruang gerak yang lebih luas. Ia menghendaki pembebasan. Pembebasan dari struktur sosial yang mengekang, dari tafsir agama yang tak adil gender, dari kebudayaan yang lebih suka melihat perempuan sebagai simbol ketertiban ketimbang sebagai subjek yang merdeka.

Dan di tengah segala jeritan itu, mari kita jujur: 'kebaya bukanlah simbol pembebasan'. Kebaya adalah pakaian yang dikenakan oleh hampir semua perempuan Jawa saat itu—termasuk mereka yang terpingit, yang tak sekolah, yang hidup dalam ruang domestik sepanjang hidupnya. Kebaya adalah pakaian sehari-hari perempuan yang tertindas oleh sistem, bukan simbol perlawanan terhadapnya.

Saya tidak mengatakan bahwa kebaya itu salah. Tidak sama sekali! Kebaya adalah bagian dari sejarah kita, dari keindahan budaya kita. Tapi menjadikannya sebagai simbol utama perjuangan Kartini adalah sebuah reduksi. Sebuah penyempitan yang terlalu sempit.

Dan ironisnya, penyempitan ini kini dipaksakan secara administratif. Lewat surat edaran dari pemerintah, para ASN perempuan, guru, dan siswi sekolah “diperintahkan” mengenakan kebaya sebagai bentuk penghormatan terhadap Kartini. Sementara laki-laki cukup memakai PDH atau seragam biasa. Seakan-akan perjuangan emansipasi bisa dirayakan lewat perbedaan seragam. Seakan-akan kebebasan berpikir Kartini bisa dirangkum dalam pemakaian pakaian tradisional semata.

Come on Guys ! Mari kita lihat kenyataan hari ini. Apakah semangat Kartini sudah betul-betul mewujud? Apakah semua perempuan sudah merasakan kemerdekaan yang ia impikan? Atau justru banyak dari mereka masih harus menegosiasikan hak-hak dasarnya: hak atas tubuh, atas pendidikan, atas keputusan hidup?

Hello! apakah perempuan pekerja hari ini sudah bebas dari stigma ketika mengambil hak cuti saat menstruasi? atau masih dianggap lebay ?

Kartini akan puas hanya dengan seremoni. Ia menulis bukan untuk dikenang lewat sanggul dan kebaya, tapi untuk menggetarkan dunia sosial yang timpang. Ia menulis bukan karena ingin diperingati, tapi karena ia ingin perempuan—semua perempuan—bisa menjadi manusia utuh, yang berpikir, yang merasa, yang memilih, dan yang merdeka.

Hari Kartini seharusnya menjadi momentum untuk bertanya: bagaimana keadaan perempuan hari ini? Apakah kita sudah membebaskan mereka dari batas-batas yang dahulu dikritik Kartini? Ataukah kita justru menciptakan batas baru dalam bentuk simbolisme yang kosong makna?

***

Kartini menggugat kita semua! 

Ia nampak tak happy melihat kita berkebaya setiap 21 April. 

Kartini bertanya: "Di mana pikiranmu, di mana keberanianmu, di mana semangatmu untuk menciptakan dunia yang adil bagi perempuan?"

"Dimana?!"

Dan mungkin, ia juga akan bertanya: "benarkah kalian telah memahami aku?"


Baca : Betapa Sexy-nya perempuan Jawa sebelum Kartini

Write a comment