Apakah kuping kita sedang krisis cita rasa? Atau ada hal lain yang bikin versi koplo terasa lebih klop di hati masyarakat?
Musik Koplo: Bukan Cuma Musik, Tapi Ruang Sosial
Mari kita jujur. Koplo bukan sekadar genre musik. Ia adalah identitas kolektif masyarakat kelas pekerja, khususnya di Jawa Timur dan sekitarnya. Ia hadir di hajatan, pasar malam, panggung tenda biru. Musiknya ngga ribet. Liriknya sederhana. Ketukannya mengajak badan untuk ikut goyang, tanpa perlu mikir panjang.
Bandingkan dengan lagu orisinalnya—kadang terlalu kontemplatif, penuh metafora, atau susah dicerna kalau didengar sambil nyapu atau kerja di bengkel. Di sini, musik koplo bukan hanya hiburan, tapi cara untuk bertahan hidup. Sebuah pelarian yang merakyat, membumi, dan egaliter.
Estetika Rasa vs Estetika Teknik
Masalahnya bukan pada kualitas, tapi pada kerangka nilai. Kita kadang terjebak pada anggapan bahwa musik yang bagus itu harus teknis, rumit, dan "berkelas". Padahal, di masyarakat luas, musik yang bagus itu yang bisa dirasakan. Yang bisa dinyanyiin bareng. Yang bikin leher goyang meski baru pulang lembur.
Menurut antropolog Jeremy Wallach, dangdut dan koplo itu “musical populism”—musik yang dibentuk dari bawah, oleh selera rakyat, bukan selera festival jazz atau penikmat headphone mahal (Wallach, 2008).
Jadi, Lagu Bagus Kalah Pamor?
Nggak juga. Lagu bagus tetap punya tempatnya. Tapi jangan salahkan rakyat kalau mereka memilih lagu yang bisa bikin hati ringan dan dompet nggak kering. Mungkin PR kita hari ini bukan cuma bikin musik yang bagus secara teknik, tapi yang juga bisa bertemu dengan pengalaman hidup masyarakat.
Karena kalau tidak, musik kita akan terus hidup dalam gelembung selera elite—didengar oleh segelintir orang, sementara masyarakat luas asyik joget dengan versi koplo-nya.

Write a comment
Posting Komentar